Susunan Bacaan Dzikir Atau Wirid Sesudah Sholat Fardhu 5 Waktu


"Perumpamaan antara orang yang dzikir pada Tuhannya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati.” Demikian sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari. Dzikir tentu bisa dilakukan kapan saja, baik dalam hati maupun lisan, salah satunya adalah dzikir setelah melaksanaan sembahyang fardhu. 

Selepas menunaikan shalat fardhu lima waktu, seseorang dianjurkan meluangkan waktu sebentar untuk berdzikir. Amalan ini menjadi rutinitas (wirid) as-salafus shalih yang memiliki dasar yang kuat dari Sunnah Nabi. 

Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar pada Bâbul Adzkâr ba‘dash Shalâh mengatakan bahwa ulama telah bersepakat (ijma’) tentang kesunnahan dzikir usai shalat yang ditopang oleh banyak hadits shahih dengan jenis bacaan yang amat beragam. 

Berikut ini adalah di antara rangkaian bacaan dzikir sesudah shalat maktubah yang disusun pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban, KH Muhammad bin Abdullah Faqih (rahimahullâh) sebagaimana dikutip dari Majmû‘ah Maqrûât Yaumiyah wa Usbû‘iyyah. Beliau mengutipnya antara lain dari hadits riwayat Muslim, Bukhari, Abu Dawud, serta kitab Bidâyatul Hidâyah dan lainnya.

1. Membaca istighfar di bawah ini sebanyak tiga kali: 

3x  أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْمَ الَّذِيْ لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ 
 
2. Memuji Allah dengan kalimat:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَام

Ini berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim. Dalam riwayat lain sebagaimana dikutip Bidâyatul Hidâyah:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَارَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَاَدْخِلْنَا الْـجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ

3. Lalu membaca:   
اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَاالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ 
Bacaan ini bisa kita temukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Muslim (muttafaqun ‘alaih). Dalam Bidâyatul Hidâyah disebutkan:
اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا رَآدَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَاالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
4. Berdoa agar diberi kemampuan untuk mengingat (dzikir), bersyukur, dan beribadah secara baik kepada Allah:
اَللَّـهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

(HR Abu Dawud)
5. Dilanjutkan dengan membaca:
لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ
(dibaca tiga kali tiap selesai shalat fardhu, khusus setelah maghrib dan shubuh sepuluh kali) 
6. Memohon perlindungan dari ganasnya neraka:  
اَللَّهُمَّ أَجِرْنِـى مِنَ النَّارِ
(tujuh kali ba'da maghrib dan shubuh) 
7. Membaca Ayat Kursi:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَّلَانَوْمٌ، لَهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ مَن ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَآءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلَا يَـؤدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ.
8. Membaca Surat al-Baqarah ayat 285-286
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ، كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ، وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا، لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

9. Disambung dengan penggalan dari Surat Ali Imran:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ، إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ، قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ،  إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ، وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

10. Membaca Surat al-Ikhlas, Surat al-Falaq, Surat an-Nas, lalu Surat al-Fatihah 
11. Membaca tasbih, hamdala, dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali:
  سُبْحَانَ اللهِ ×٣٣ اَلْحَمْدُلِلهِ ×٣٣ اَللهُ اَكْبَرْ ×٣٣
12. Kemudian dilanjutkan dengan:
اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُيُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّابِا للهِ الْعَلِـىِّ الْعَظِيْمِ. أَفْضَلُ ذِكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ

 لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ
(Dibaca 300 kali bakda shubuh, 100 kali bakda isya, 50 kali bakda dhuhur, 50 kali bakda ashar, dan 100 kali bakda maghrib)
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ
(dibaca bakda shubuh 300 atau 100 kali)  

لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


13. Wirid kemudian ditutup dengan doa sesuai dengan harapan masing-masing.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/79315/susunan-bacaan-wirid-sesudah-shalat-lima-waktu

Tata Cara Sujud Syukur Lengkap: Niat, Bacaan, Dan Ketentuan Waktu Yang Tepat

Menunaikan sujud syukur tidak boleh dilaksanakan dengan asal-asalan. Pasalnya, sujud syukur memiliki bacaan dan tata cara tersendiri yang harus dilaksanakan sesuai aturan. Untuk itu, simak ulasan tata cara sujud syukur yang benar di sini.

Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan dalam rangka mengucap syukur kepada Alloh SWT. atas segala karunia yang telah diberikan.

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Sahabat Abu Bakar mengatakan, “Bila Rosululloh saw. mendapati kemudahan dan kabar gembira, beliau langsung tersungkur bersujud kepada Alloh SWT.” (HR. Ibnu Majah)

Gerakan istimewa ini bisa menjadi cara yang bisa dilakukan seorang muslim untuk berkomunikasi dengan Alloh SWT.

Dalam pelaksanaannya, sujud syukur berbeda dari sujud pada umumnya.

Alasannya, sujud syukur harus dilakukan dengan tata cara dan bacaan do'a yang berbeda dari sujud pada umumnya.

Dihimpun dari berbagai sumber, simak yuk informasi lengkap dari sujud syukur, beserta syarat, tata cara, dan bacaannya di bawah ini!

Hukum Sujud Syukur

Cara sujud syukur dalam Islam itu hukumnya sunah.

Melansir dari merdeka.com, Nabi Muhammad saw. pernah melaksanakan sujud syukur saat mendapatkan sesuatu yang menggembirakan Beliau.

Hal tersebut dijelaskan dalam hadis berikut.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, berikut adalah arti dari hadisnya:

“Dari Abu Bakar, ia berkata, apabila Nabi Muhammad saw. menerima berita yang menggembirakannya, biasanya beliau terus bersujud kepada Alloh SWT.” (HR. Abu Dawud)

Kemudian, diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf disebutkan,

“Suatu hari, Rosululloh keluar dari kediamannya. Tiba-tiba, beliau terperengah lalu masuk kembali ke dalam, kemudian beliau menghadap kiblat dan bersujud syukur lama sekali, lalu beliau mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Jibril datang kepadaku mengatakan bahwa Alloh berkata kepadamu, ‘Barang siapa membaca sholawat dan salam kepadamu maka Aku mengucapkan sholawat dan salam kepadanya,’ aku bersujud mensyukuri itu.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Hadist Tentang Sujud Syukur

Sebelum membaca ulasan tata cara sujud syukur, ada baiknya kamu perlu mengetahui dalil-dalilnya terlebih dahulu.

Masih dikutip dari merdeka.com, adapun hadis tentang Rasulullah yang melakukan sujud syukur ketika mendapatkan kabar menggembirakan yaitu seperti berikut.

“Dari Al-Baraa’, ia berkata, ‘Nabi saw. pernah mengutus Khalid bin Walid kepada penduduk Yaman untuk menyeru mereka kepada Islam, tetapi mereka belum mau masuk Islam. Nabi kemudian mengutus Ali dan memerintahkannya supaya menyusul Khalid. Ali kemudian menulis surat kepada Rasulullah bahwa orang-orang di sana sudah masuk Islam. Maka, setelah membaca surat itu, Rasulullah saw. melakukan sujud syukur’.” (HR. Baihaqi)

Waktu yang Tepat untuk Sujud Syukur

Sesuai sunah Rosululloh saw., sujud syukur bisa dilaksanakan saat seorang muslim mendapat nikmat dari Alloh SWT.

Contohnya adalah saat anak lahir, mendapatkan hadiah perlombaan, naik jabatan, lulus ujian, dan yang lainnya.

Selain itu, sujud syukur bisa dilakukan saat seseorang terlepas atau selamat dari musibah.

Syarat Sujud Syukur

Untuk mengetahui tata cara sujud syukur, seorang muslim harus mengetahui syarat-syarat sujud syukur.

Adapun tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu sebagai berikut:

  1. Suci dari hadas kecil maupun besar
  2. Menutup aurat
  3. Menghadap kiblat

Tata Cara Sujud Syukur

tata cara sujud syukur

sumber: saintif.com

Berikut adalah urutan tata cara yang bisa dilakukan saat sujud syukur.

  • Membaca Niat Sujud Syukur

Adapun, bacaan niat sujud syukur yaitu seperti berikut.

نَوَيْتُ سُجُوْدَ الشُّكْرِ سُنَةَ للهِ تَعَالَى

Nawaitu sujudas syukri sunnatan lillahi ta’ala.”

Artinya: “Saya niat melakukan sujud syukur sunah karena Alloh Ta’ala.”

  • Melakukan takbiratul ihram
  • Melakukan sujud syukur satu kali
  • Membaca doa sujud syukur dalam posisi sujud

سُبْحَانَ اللّهِ والْحَمْدُللّهِ وَ لا اِلهَ اِلَّا اللّهُ وَ اللّهُ اَكْبَرُلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بالله العلي العظيم

Subhaanallohi walhamdulillaahi walaa ilaaha illalloohu walloohuakbar, walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim.”

Artinya: Maha suci Alloh, segala puji bagi Alloh, tiada Tuhan selain Alloh, Alloh Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Alloh Yang Maha Tinggi, Maha Agung.”

  • Duduk di antara dua sujud
  • Mengucapkan salam

Bacaan Doa Sujud Syukur

Kemudian, seorang muslim harus mengetahui bacaan sujud syukur seperti berikut.

1. Membaca Tasbih, Tahmid, dan Tahlil

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَاللهُ أَكْبَرُ

“Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi, wa laa ilaaha illallaah, wallahu akbar.”

Artinya: “Maha Suci Alloh. Segala puji kepunyaan Alloh, tiada Tuhan selain Alloh, Alloh Maha Besar.”

2. Membaca Zikir Syukur

سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَا رَكَ اللهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

Sajada wajhiya lilladzii kholaqohu washowwarohu wasyaqo sam’ahu wa bashorohu bihaulili wa quwwatihi fatabaa ro kallaahu ahsanul khooliqiin.”

Artinya: Aku sujudkan wajahku kepada yang menciptakannya, membentuk rupanya, dan membuka pendengaran serta penglihatan. Maha Suci Alloh sebaik-baik Pencipta.”

3. Membaca Surat An-Naml Ayat 19

رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ اَنۡ اَشۡکُرَ نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ

“Robbi au zi’nii an asykur ni’matakallatii an ‘amta ‘alayya wa ‘alaa waa lidayya wa an a’mal shoolihan tardhoohu wa adkhilnii birohmatika gii ‘ibaadikasshoolihiin.”

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal sholih yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang sholih.” (QS. An-Naml ayat 19).

Hikmah Sujud Syukur

Sujud syukur dapat difungsikan perwujudan dari ungkapan rasa syukur dan terima kasih setiap hamba atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Alloh SWT.

Dengan begitu, sujud syukur menandakan bahwa seseorang merupakan hamba yang selalu ingat kepada Alloh SWT.

Kemudian, adapun hikmah yang akan diperoleh bagi muslim yang melakukan sujud syukur adalah sebagai berikut:

  • Mengingat lloh SWT.
  • Bentuk kepasrahan sebagai bentuk berserah diri kepada Alloh SWT.
  • Mendekatkan diri kepada Alloh SWT.
  • Merasa rendah diri di hadapan sang pencipta dan mengikis rasa sombong
  • Menjauhkan diri dari sikap takabur
  • Melancarkan sirkulasi darah saat posisi sujud
  • Menajamkan akal dan pikiran sehingga meningkatkan konsentrasi
  • Memperoleh kepuasan batin berkaitan dengan anugerah yang diterima dari Alloh SWT.

Cara Sujud Sahwi


Sujud sahwi dilaksanakan dua kali sujud dan setiap akan dan bangun dari masing-masing sujud disertai takbir intiqal. Sujud sahwi dilakukan di akhir sholat sebelum salam. dan dalam sujud sahwi membaca doa sujud sahwi seperti yang di tulis diatas.

Do'a tersebut di baca 3 kali dalam sujud sahwi yang pertama, Kemudian bangun dari sujud, dan duduk diantara dua sujud seperti sujud biasanya, kemudian sujud lagi dengan membaca bacaan yang sama seperti bacaan sujud sahwi diatas, kemudian bangun dari sujud, duduk dan salam.

Sujud Sahwi Dianjurkan dalam Lima Kondisi Ini

Sujud sahwi sunnah dilakukan ketika seseorang dalam shalatnya melakukan salah satu dari lima hal. 

Pertama, ketika meninggalkan sunnah ab’ad. Sunnah ab’ad dalam shalat meliputi qunut, tasyahud awal, shalawat pada Nabi pada saat tahiyyat, shalawat pada keluarga Nabi pada saat tahiyyat akhir, dan duduk tasyahud awal. Ketika seseorang meninggalkan salah satu dari berbagai macam sunnah ab’ad tersebut maka ia disunnahkan melaksanakan sujud sahwi.

Kedua, lupa melakukan sesuatu yang membatalkan shalat bila dilakukan dengan sengaja, seperti seseorang lupa memperpanjang bacaan dalam i’tidal dan duduk di antara dua sujud. Sebab dua rukun ini tergolong rukun qashir yang tidak boleh dipanjangkan.  

Ketiga, memindah rukun qauli (ucapan) bukan pada tempatnya, sekiranya memindah rukun qauli ini bukan termasuk yang membatalkan shalat. Seperti membaca Al-Fatihah pada saat duduk di antara dua sujud dan contoh-contoh yang sama. 

Keempat, ragu dalam hal meninggalkan sunnah ab’ad. Seperti seseorang ragu apakah telah melaksanakan qunut atau belum, maka dalam hal ini ia disunnahkan sujud sahwi, sebab pada hakikatnya (hukum asal) ia dianggap tidak melaksanakan qunut tersebut.

Kelima, melakukan perbuatan yang berkemungkinan tergolong sebagai tambahan. Seperti seseorang pada saat melaksanakan shalat isya’ ragu apakah telah sampai rakaat ketiga atau sudah keempat. Maka dalam keadaan tersebut hitungannya harus berpijak pada rakaat ketiga, sehingga ia wajib untuk menambahkan satu rakaat lagi dan sebelum salam ia disunnahkan melaksanakan sujud sahwi, sebab shalatnya berkemungkinan terdapat tambahan satu rakaat.

Kelima sebab di atas secara lugas dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairami:

وأسبابه خمسة ، أحدها ترك بعض .ثانيها : سهو ما يبطل عمده فقط . ثالثها : نقل قولي غير مبطل . رابعها : الشك في ترك بعض معين هل فعله أم لا ؟ خامسها : إيقاع الفعل مع التردد في زيادته 

“Sebab kesunnahan melakukan sujud sahwi ada lima. Yaitu meninggalkan sunnah ab’ad, lupa melakukan sesuatu yang akan batal jika dilakukan dengan sengaja, memindah rukun qauli (ucapan) yang tidak sampai membatalkan, ragu dalam meninggalkan sunnah ab’ad, apakah telah melakukan atau belum dan yang terakhir  melakukan suatu perbuatan dengan adanya kemungkinan hal tersebut tergolong tambahan” (Syekh Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami, juz 4, hal. 495) 

Khusus sebab disunnahkannya sujud sahwi yang terakhir, Rasulullah menjelaskan hikmah dari pelaksanaan sujud sahwi dan penambahan rakaat pada permasalahan tersebut:

 إذا شك أحدكم فلم يدر أصلى ثلاثا أم أربعا فليلق الشك وليبن على اليقين وليسجد سجدتين قبل السلام ، فإن كانت صلاته تامة كانت الركعة ، والسجدتان نافلة له ، وإن كانت ناقصة كانت الركعة تماما للصلاة ، والسجدتان يرغمان أنف الشيطان 

“Ketika kalian ragu, tidak ingat apakah telah melakukan shalat tiga rakaat atau empat rakaat maka buanglah rasa ragu itu dan lanjutkanlah pada hal yang diyakini (hitungan tiga rakaat) dan hendaklah melakukan sujud dua kali sebelum salam. Jika shalat tersebut sempurna maka tambahan satu rakaat dihitung (pahala) baginya dan dua sujud merupakan kesunnahan baginya, jika ternyata shalatnya memang kurang satu, maka tambahan satu rakaat menyempurnakan shalatnya dan dua sujud itu untuk melawan kehendak syaitan.” (HR. Abu Daud) 

Namun jika menelisik berbagai sebab-sebab dianjurkannya melaksanakannya sujud sahwi, lantas apakah shalat yang dilakukan seseorang ketika melakukan salah satu dari lima sebab di atas namun ia tidak melaksanakan sujud sahwi dalam shalatnya, apakah lantas hal tersebut berpengaruh dalam keabsahan shalatnya, dalam arti shalatnya menjadi batal? 

Status sujud sahwi sebagai sunnah muakkad (kesunnahn yang sangat dianjurkan) tidak lantas menyebabkan shalat seseorang menjadi batal ketika tidak dilaksanakan. Sebab term kesunnahan hanya berarti anjuran, bukan suatu kewajiban, sehingga bukan merupakan hal yang harus dilakukan dan akan membatalkan shalat ketika tidak melaksanakannya. Berbeda halnya ketika seseorang tidak melaksanakan kewajiban shalat dengan sengaja atau melakukan hal-hal yang dilarang dalam shalat (mubthilat as-shalat) dengan sengaja, maka dua hal ini secara umum dapat berpengaruh dalam keabsahan shalat yang dilakukannya. 

Dalam referensi kitab-kitab Syafi’iyah banyak sekali yang menjelaskan bahwa sujud sahwi hanya sebatas kesunnahan, misalnya seperti yang terdapat dalam kitab Dalil al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj:

 - سجود السهو سنة) مؤكدة ولو في نافلة ما عدا صلاة الجنازة وهو دافع لنقص الصلاة 

“Sujud Sahwi tergolong sunnah muakkad, meskipun pada shalat sunnah, selain pada shalat jenazah. Sujud sahwi ini berfungsi mencegah kekurangan dalam shalat” (Syekh Abu Abdurrahman Rajab Nuri, Dalil al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj, juz 1, hal. 129) 

Bahkan Imam Asy-Syafi’i dalam qaul qadim yang tercantum dalam karya monumentalnya, al-Um, menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan sujud sahwi dalam shalat maka tidak wajib mengulang kembali shalatnya, sehingga shalat yang ia lakukan tetap dihukumi sah dan menggugurkan kewajibannya. Sebagaimana beliau jelaskan dalam referensi berikut:

 ولا أرى بينا أن واجبا على أحد ترك سجود السهو أن يعود للصلاة 

“Aku tidak berpandangan bahwa wajib bagi orang yang meninggalkan sujud sahwi untuk mengulangi shalatnya” (Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, al-Um, juz 1, hal. 214) 

Berbeda halnya ketika meninggalkan sujud sahwi diarahkan pada konteks shalat jamaah. Misalnya seperti ketika imam melaksanakan sujud sahwi, namun makmum tidak mengikuti imam dengan tidak melaksanakan sujud sahwi bersamaan dengan imamnya, maka dalam keadaan demikian shalatnya menjadi batal ketika hal tersebut dilakukan dengan sengaja. Sebab dalam permasalahan ini, batal shalatnya makmum bukan hanya karena ia tidak melakukan sujud sahwi, tapi lebih karena faktor ia tidak mengikuti (mutaba’ah) imam yang merupakan salah satu kewajiban dalam shalat jama’ah. Ketentuan ini sperti yang dijelaskan dalam kitab Kasyifah as-Saja:

 فإن سجد إمامه تابعه وجوباً وإن لم يعرف أنه سها حتى لو اقتصر على سجدة واحدة سجد المأموم أخرى، فإن ترك متابعته عمداً بطلت صلاته ثم يعيد السجود مسبوق آخر صلاته لأنه محل سجود السهو، وإن لم يسجد الإمام وسلم المأموم آخر صلاته جبراً لخلل صلاته بسهو إمامه 

(Syekh Muhammad an-Nawawi al-Bantani, Kasyifah as-Saja fi Syarh as-Safinah an-Naja, juz 1, hal. 83) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak melaksanakan sujud sahwi bukan merupakan hal yang berpengaruh dalam keabsahan shalat, kecuali ketika hal tersebut terjadi pada shalat jamaah, saat imam melaksanakan sujud sahwi, namun orang yang menjadi makmum tidak mengikutinya. Maka dalam keadaan tersebut shalatnya menjadi batal. Wallahu a’lam.


CARA SHOLAT FARDHU 5 WAKTU LENGKAP BACAAN ARAB LATIN DAN TERJEMAHAN

Niat Sholat yang sering digunakan masyarakan khususnya Indonesia saat hendak melaksanakan Sholat Fardhu.

1. Niat Sholat Sendiri, Menjadi Makmum Dan Imam

Bacaan Doa Niat Sholat Shubuh

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى

Ushollii fardosh-Shubhi rok’ataini mustaqbilal qiblati (adaa an) [makmuuman / imaaman] lillaahi ta’aalaa.

Artinya :
Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Shubuh sebanyak dua roka’at dengan menghadap kiblat, (Sebagai) [makmum / imam], karena Alloh Ta’ala.

Bacaan Doa Niat Sholat Dzuhur

اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى

Ushollii fardhozh-Zhuhri arba’a roka’aatin mustaqbilal qiblati (adaa an) [makmuuman / imaaman] lilaahi ta’aalaa.

Artinya :
Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Dzuhur sebanyak empat raka’at dengan menghadap kiblat, (Sebagai) [makmum / imam], karena Alloh Ta’ala.

Bacaan Doa Niat Sholat 'Ashar

أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى

Ushollii fardhol ‘Ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati (adaa an) [makmuuman / imaaman] lilaahi ta’aalaa.

Artinya :
Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu 'Ashar sebanyak empat roka’at dengan menghadap kiblat, (Sebagai) [makmum / imam], karena Alloh Ta’ala.

Bacaan Doa Niat Sholat Maghrib

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى

Ushollii fardhol Maghribi tsalaatsa roka’aatin mustaqbilal qiblati (adaa an) [makmuuman / imaaman] lilaahi ta’aalaa.

Artinya :
Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Maghrib sebanyak tiga roka’at dengan menghadap kiblat, (sebagai) [makmum / imam] karena Alloh Ta’ala.

Bacaan Doa Niat Sholat 'Isya

أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى

Ushollii fardhol 'Isyaa’i arba’a roka’aatin mustaqbilal qiblati (adaa an) [makmuuman / imaaman] lilaahi ta’aalaa.

Artinya :
Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu 'Isya’ sebanyak empat roka’at dengan menghadap kiblat, (sebagai) [makmum / imam] karena Alloh Ta’ala

2. GERAKAN BERDIRI TEGAK UNTUK ShoLAT

Berdiri Tegak Pandangan Ke Arah Tempat Sujud

Berdiri tegak pada sholat fardhu hukumnya wajib. Berdiri tegak merupakan salah satu rukun sholat. Sikap ini dilakukan sejak sebelum takbirotul ihram. Cara melakukannya adalah sebagai berikut.
1. Posisi badan harus tegak lurus dan tidak membungkuk, kecuali jika sakit.
2. Tangan rapat di samping badan.
3. Kaki direnggangkan, paling lebar selebar bahu.
4. Semua ujung jari kaki menghadap kiblat.
5. Pandangan lurus ke tempat sujud.
6. Posisi badan menghadap kiblat. Akan tetapi, jika tidak mengetahui arah kiblat, boleh menghadap ke arah mana saja. Asal dalam hati tetap berniat menghadap kiblat.

3. TAKBIROTUL IHRÂM

a. Gerakan Mengangkat Kedua Tangan

Takbiratul Ihram Sholat

ada banyak keterangan tentang cara mengangkat tangan. Menurut kebanyakan ulama caranya adalah sebagai berikut.

  1. Telapak tangan sejajar dengan bahu.
  2. Ujung jari-jari sejajar dengan puncak telinga.
  3. Ujung ibu jari sejajar dengan ujung bawah telinga.
  4. Jari-jari direnggangkan.
  5. Telapak tangan menghadap ke arah kiblat, bukan menghadap ke atas atau ke samping.
  6. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi laki-laki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
  7. Bersamaan dengan mengucapkan kalimat takbir.

Catatan : Mengangkat tangan ketika sholat terdapat pada empat tempat, yaitu saat takbirotul ihram, saat hendak rukuk, saat iktidal (bangun dari rukuk), dan saat bangun dari rokaat kedua (selesai tasyahud awal) untuk berdiri meneruskan rokaat ketiga.

اَللّهُ اَكْبَرُ

Alloohu Akbar
Artinya : “Allah Maha Besar”

Mengucapkan Takbir “Alloohu Akbar” di iringi mengangkat tangan ketika mengawali ibadah sholat, dan ketika seseorang sudah melakukan takbirotul ihram pertanda bahwa tidak boleh melakukan hal hal diluar sholat yang berarti seseorang sudah masuk dalam ibadah Sholat sehingga harus diam dan hanya mengucapkan bacaan bacaan sholat yang akan dibaca nantinya.

b. Gerakan Sedekap dalam Sholat

Sedekap Saat Sholat

Sedekap dilakukan sesudah mengangkat tangan takbirotul ihram. Adapun caranya adalah sebagai berikut.
a. Telapak tangan kanan diletakkan di atas pergelangan tangan kiri, tidak digenggamkan.
b. Meletakkan tangan boleh di dada. Boleh juga meletakkannya di atas pusar. Boleh juga meletakkannya di bawah pusar.

Ketika bersedekap, do'a yang pertama dibaca adalah do'a iftitah.

Adapun Bacaan yang diguanakan oleh masyarakat di Indonesia, ada di bawah ini :

c. Bacaan DO'A IFTITAH (Sunah)

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Alloohu Akbar kabiirow-walhamdu lillaahi katsiiro, wa subhaanalloohi bukrotaw-wa’ashiila.
Artinya : “Alloh Maha Besar, Maha Sempurna Kebesaran-Nya. Segala Puji Bagi Alloh, Pujian Yang Sebanyak-Banyaknya. Dan Maha Suci Alloh Sepanjang Pagi Dan Petang.”

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Inni Wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros-samaawaati wal ardho haniifam-muslimaw-wamaa anaa minal musyrikiin. Inna sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Robbil ‘aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiin.
Artinya : “Kuhadapkan Wajahku Kepada Dzat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk Orang-Orang Yang Musyrik. Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Alloh, Penguasa Alam Semesta. Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk Orang-Orang Islam.”

4. MEMBACA SURAT AL-FATIHAH

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Bismillahirrohmaanirrohiim
Artinya : “Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin. Ar Rohmaanirrohiim. Maaliki yaumiddiin. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash-shirroothol musthaqiim. Shiroothol ladziina an’amta ‘alaihim ghoiril maghduubi ‘alaihim waladh-dhoolliin.

Artinya : Segala puji bagi Alloh, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Sesudah membaca surat Al Fatihah, kemudian baca Ayat Pada Al-Quran sangat disarankan membaca Surat-Surat pendek di Juz Amma, seperti Surat Al Ikhlas, Al ‘Asr, dan An Nasr.

5. GERAKAN DAN BACAAN RUKU' – TUMA’NINAH

Gerakan Rukuk Dalam Shalat

اَللّهُ اَكْبَرُ

Alloohu Akbar
Artinya : “Alloh Maha Besar”

Ruku' artinya membungkukkan badan. Adapun cara melakukannya adalah sebagai berikut.
1. Angkat tangan sambil mengucapkan takbir. Caranya sama seperti takbirotul ihram.
2. Turunkan badan ke posisi membungkuk.
3. Kedua tangan menggenggam lutut. Bukan menggenggam betis atau paha. Jari-jari tangan direnggangkan. Posisi tangan lurus, siku tidak ditekuk.
4. Punggung dan kepala sejajar. Punggung dan kepala dalam posisi mendatar. Tidak terlalu condong ke bawah. Tidak pula mendongak ke atas.
5. Kaki tegak lurus, lutut tidak ditekuk.
6. Pinggang direnggangkan dari paha.
7. Pandangan lurus ke tempat sujud.
Sesudah posisi ini mantap, kemudian membaca salah satu do'a ruku'.

Adapun bacaan Ruku' Sebagai Berikut :

Bacaan Do'a R U K U’

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

Subhaana robbiyal adzhiimi wa bi hamdih – 3 X (Tiga Kali)
Artinya : “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.”

6. GERAKAN DAN DO'A I'TIDAL – TUMA’NINAH

Gerakan Iktidal Dalam Salat Tumakninah

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه

sami’alloohu liman hamidah
Artinya : Alloh mendengar orang yang memuji-Nya.

I'tidal adalah bangkit dari ruku'. Posisi badan kembali tegak. Ketika bangkit disunahkan mengangkat tangan seperti ketika takbirotul ihram. Bersamaan dengan itu membaca kalimat “sami’alloohu liman hamidah”. Badan kembali tegak berdiri, Tangan rapat di samping badan. Ada juga yang kembali ke posisi bersedekap seperti halnya ketika membaca surat Al Fatihah. Perbedaan ini terjadi karena beda pemaknaan terhadap hadist / dalilnya. Padahal dalil yang digunakan sama. Namun, jumhur ulama sepakat bahwa saat i'tidal itu menyimpan tangan rapat di samping badan.

Berdiri Tegak Pandangan Ke Arah Tempat Sujud

Sesudah badan mantap tegak berdiri, barulah membaca salah satu do'a i'tidal.

Bacaan Do'a I’TIDAL

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّموَاتِ وَمِلْءُ الاَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ

Robbanaa lakal hamdu Mil ussamaawaati wamil-ul ardhi wamil-u maasyi’ta min syai-in ba’du.
Artinya : “Ya Alloh ya Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu.”

7. GERAKAN DAN BACAAN SUJUD – TUMA’NINAH

Kemudian dilanjutkan dengan melakukan gerakan sujud seraya membaca “Alloohu Akbar” dengan kedua lutut terlebih dulu, yakni meletakkan Dahi dan Hidung, Kedua Telapak Tangan, kedua lutut dan Kedua Kaki menempel di lantai (Tempat Sholat).

اَللّهُ اَكْبَرُ

Alloohu Akbar
Artinya : “Alloh Maha Besar”

Gerakan Sujud Yang Benar dan Tumakninah

Bacaan Do'a SUJUD dalam Sholat

سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Subhaana robbiyal a’la wa bi hamdih. 3x
Artinya : “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan dengan segala puji bagi-Nya.” 3x

Sujud artinya menempelkan kening pada lantai. Menurut hadist riwayat Jamaah, ada tujuh anggota badan yang menyentuh lantai ketika sujud, yaitu:
1. wajah (kening dan hidung),
2. dua telapak tangan,
3. dua lutut, dan
4. dua ujung telapak kaki.

Cara melakukan sujud adalah sebagai berikut.
1. Turunkan badan dari posisi i'tidal, dimulai dengan menekuk lutut sambil mengucapkan takbir.
2. Letakkan kedua lutut ke lantai.
3. Letakkan kedua telapak tangan ke lantai.
4. Letakkan kening dan hidung ke lantai.
5. Talapak tangan dibuka, tidak dikepalkan. Akan tetapi, jari-jarinya dirapatkan, dan ini satu-satunya gerakan di mana jari-jari tangan dirapatkan, sementara dalam gerakan lainnya jari-jari ini selalu direnggangkan.
6. Jari-jari tangan dan kaki semuanya menghadap ke arah kiblat. Ujung jari tangan letaknya sejajar dengan bahu.
7. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi laki-laki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
8. Renggangkan pinggang dari paha.
9. Posisi pantat lebih tinggi daripada wajah.
10. Sujud hendaknya dilakukan dengan tenang. Ketika sudah mantap sujudnya, bacalah salah satu doa sujud.

8. GERAKAN DAN BACAAN IFTIRASY – TUMA’NINAH (GERAKAN DUDUK ANTARA DUA SUJUD)

اَللّهُ اَكْبَرُ

Alloohu Akbar
Artinya : “Alloh Maha Besar”

Kemudian bangun dari sujud dengan mengucapkan “Alloohu Akbar”, untuk kemudian melakukan duduk di antara dua sujud. Pada saat sudah duduk dengan sempurna [menduduki kaki kiri, dengan telapak kaki kanan berdiri dan jarinya terletak di alas (lantai/tanah) menghadap kiblat]

Gerakan dan Bacaan Iftirasy (Duduk Antara Dua Sujud) – Thuma’ninah

Duduk antara sujud adalah duduk iftirasy, yaitu:
1. Bangkit dari sujud pertama sambil mengucapkan takbir.
2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
3. Telapak kaki kanan tegak. Jari-jarinya menghadap ke arah kiblat.
4. Badan tegak lurus.
5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
6. Telapak tangan dibuka. Jari-jarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
8. Pandangan lurus ke tempat sujud.
9. Setelah posisi tumakninah, baru kemudian membaca salah satu doa antara dua sujud.

Bacaannya Sebagai Berikut :

DUDUK DIANTARA DUA SUJUD

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ

Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa ‘aafinii wa’fu ‘annii.
Artinya : “Ya Alloh, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah aku, angkatlah derajatku, berikanlah rejeki kepadaku, berikanlah petunjuk kepadaku, berilah kesehatan kepadaku dan ampunilah aku.”

Kemudian sujud lagi kemudian  duduk sejenak kemudian bangun dari duduk untuk mengerjakan roka'at ke dua sambil mengucap “Alloohu Akbar”, baca Al Fatihah, baca surat Al-Quran yang pendek, Ruku, I'tidal, Sujud, duduk diantara dua sujud dan baca do'anya, sujud lagi, duduk tasyahud awal seperti gambar dibawah ini : 



kemudian baca tasyahud/tahiyat awal 



"Attahiyyaatul mubaarokatush-sholawaatuth-thoyyibaatulillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rohmatulloohi wa barokaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin. Asyhadu an laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadar Rosuulullooh. Alloohumma sholli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad, 

Artinya : Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah. Salam, rahmat dan berkahNya kupanjatkan kepadamu wahai Na­bi (Muhammad). Salam (keselamatan) semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh-shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah’. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alh.h. Ya Allah ! Limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad”.

Selesai Tahiyat Awal, lalu berdiri kembali dengan mengangkat kedua tangan setinggi telinga sambil membaca Alloohu Akbar untuk mengerjakan raka’at ketiga (cara-caranya sama seperti roka’at pertama (tanpa dimulai membaca do’a Iftitah dan sesudah membaca surat Al-Fatihah tidak membaca surat pendek maupun ayat-ayat Al-Qur’an).

Duduk Tasyahud Akhir (Duduk Tawarruk)

Bangkit dari sujud sambil membaca takbir dan duduk dalam posisi Tasyahud Akhir yaitu duduk Tawarruk. 

اَللّهُ اَكْبَرُ

Alloohu Akbar
Artinya : “Alloh Maha Besar”

Setelah sujud yang ke dua kemudian melakukan Doa Tahiyat Akhir dengan cara duduk tasyahud (tahiyat) akhir. Adapun tata cara duduk pada Tasyahud Akhir ini hendaknya orang yang sholat duduk pada pangkal pahanya yang kiri dengan posisi kaki kiri yang keluar dari bagian bawahnya, sementara telapak kaki kanan dalam posisi tegak.

Gerakan Duduk Dan Bacaan Tasyahud Akhir

Tasyahud akhir adalah duduk tawarruk. Caranya adalah.
1. Bangkit dari sujud kedua, yaitu pada rakaat terakhir salat, sambil membaca takbir.
2. Telapak kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan. Jadi, panggul duduk menyentuh lantai.
3. Telapak kaki kanan tegak. Jari-jarinya menghadap ke arah kiblat.
4. Badan tegak lurus.
5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
6. Telapak tangan dibuka. Jari-jarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
8. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud, selawat, dan doa setelah tasyahud akhir.

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، 

،  

At-tahiyyaatul mubaarokatush-sholawaatuth-thoyyibaatulillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rohmatulloohi wa barokaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin. Asyhadu an laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadar Rosuulullooh.  

Artinya : “Segala kehormatan, keberkahan, rahmat dan keselamatan (sholawat), serta kebaikan hanyalah kepunyaan Alloh. Keselamatan, rahmat dan berkah dari Alloh semoga tetap tercurah atasmu, wahai Nabi (Muhammad). Keselamatan, rahmat dan berkah dari Alloh semoga juga tercurah atas kami, dan juga atas seluruh hamba Alloh yang sholeh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh.Ya Allah, 

MEMBACA SHOLAWAT IBROHIMIYAH


Sholawat Ibrohimiyah yang lebih sempurna yaitu  :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Alloohumma sholli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad, Wa ‘alaa aali Sayyidinaa Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa Sayyidinaa Ibroohiim, wa ‘alaa aali Sayyidinaa Ibroohiim, wa baarik ‘ala Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aali Sayyidinaa Muhammad, kamaa baarokta ‘alaa Sayyidinaa Ibroohiim wa ‘alaa aali Sayyidinaa Ibroohiim, fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

Artinya :
Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan (Sholawat) untuk Nabi Muhammad. Dan juga limpahkanlah rahmat dan keselamatan (sholawat) kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat dan keselamatan (sholawat) kepada Nabi Ibrohim dan kepada keluarga Nabi Ibrohim. Limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrohim dan kepada keluarga Nabi Ibrohim. Di seluruh alam semesta, sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Agung (Mulia).

Jika Sholat Shubuh di roka'at kedua setelah do'a i'tidal disarankan membaca do'a qunut shubuh

membaca doa qunut sangat dianjurkan. 

Dalam Madzhab Imam Syafi'i, membaca doa qunut dalam shalat shubuh hukumnya adalah sunnah ab'ad. Yang artinya, membaca doa qunut dalam shalat shubuh sangat dianjurkan. Apabila lupa melaksanakannya, maka diganti dengan melakukan sujud syahwi.

Imam Muslim, dari Jabir berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُوْلُ الْقُنُوْتِ

Artinya: “Sholat yang paling utama adalah sholat yang panjang (bacaan) qunutnya.”


Berikut ini Do'a Qunut :
اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ بِرَحْمَتِكَ شَرَّ قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلا يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Bacaan latin:
"Allohummah dini fi man hadait, wa ‘afini fiman ‘afait, wa tawallani fi man tawallait, wa barik li fi ma a’thoit, wa qini bi rohmatika syarro ma qodhoit, fa innaka taqdhi wa la yuqdho ‘alaik, wa innahu la yadzillu man wa lait, wa la ya’izzu man ‘adait, tabarokta robbana wa ta’alait, fa lakal hamdu a’la ma qodhoit, astagfiruka wa atubu ilaik, wa shollallahu ‘ala sayyidina muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam."

Artinya:
"Ya Allah tunjukanlah aku sebagaimana mereka yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan. Peliharalah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau lindungi. Berikanlah keberkahan kepadaku atas apa yang telah Engkau berikan. Selamatkanlah aku dengan kasihmu dari bahaya kejahatan yang telah Engkau tentukan.

Engkaulah yang menghukum dan bukan dihukum. Tidak hina orang yang Engkau jadikan pemimpin. Tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau. Bagi-Mu segala pujian di atas apa yang Engkau tentukan. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan karunia atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya."

setelah do'a qunut kemudian sujud pertama dan sujud ke dua kemudian pada posisi duduk tawarruk maka baca do'a tahiyat akhir/tasyahud akhir di roka'at kedua sebagai berikut :

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Jika Sholat Magrib maka bacaan tahiyat akhir/tasyahud akhir di roka'at ketiga( setelah sujud ke dua selesai, pada posisi duduk tawarruk maka langsung baca tahiyat akhir)

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Jika Sholat Dzuhur'Ashar dan 'Isya selesai roka’at ketiga, langsung mengerjakan roka’at keempat (cara-caranya sama seperti roka’at kedua, hanya saja setelah sujud terakhir (sujud kedua) lalu duduk kaki bersilang (tawarruk) lalu baca tasyahud akhir / tahiyat akhir.

11. GERAKAN SALAM

Gerakan Salam Saat Sholat

Gerakan salam adalah menengok ke arah kanan dan kiri. Menengok dilakukan sampai kira-kira searah dengan bahu. Jika jadi imam dalam sholat berjamaah, salam dilakukan sampai terlihat hidung oleh makmum. Menengok dilakukan sambil membaca salam.

Adapun bacaan salam sebagai berikut :

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

salam ke arah kanan seraya mengucapkan: “ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLOOH, dan salam ke arah kiri seraya mengucapkan ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLOOH (Semoga keselamatan dan rahmat Alloh limpahkan kepadamu)

ALAMAT

Perum Bumi Arca Indah
No. 1A Blok 1
Rt. 1 Rw. 12 Kel. Arcawinangun
Kec. Purwokerto Timur
Kab. Banyumas
Propinsi Jawa Tengah 53113

KONTAK

Telp. : (0281) 6571785
E-mail : koininlah@gmail.com

TAUTAN

MEDIA SOSIAL

Hubungi Kami
Website By Distributor K-Link © 2019 - 2021